Menjadi cucu dari salah satu prajurit kemerdekaan tentunya memiliki dua sudut pandang yang saling berlawanan.

Satu sisi ada sebuah kebanggaan karena mempunyai kakek seorang abdi negara, yang berjuang bukan hanya untuk melindungi keluarga kecilnya tapi untuk kebermanfaatan yang jauh lebih luas yaitu memerdekakan negaranya dari para penjajah negeri.

Namun di sisi lain, menjadi cucu dari salah seorang pejuang kemerdekaan mungkin ada saja perasaan ‘insecure’, perasaan khawatir tidak bisa meneruskan perjuangan Sang Kakek.

Perjuangan yang dimaksud bukan berlari ke sana ke mari sembari memegang ‘bedil’, sembunyi di semak-semak mengintai penjajah dan lain sebagainya seperti halnya yang sudah semesetinya dilakukan tentara pada masanya.

Melainkan perjuangan yang harus dilakukan oleh anak kelahiran tahun 90-an yang di usianya sekarang di tuntut melakukan perjuangan terhadap diri, keluarga, bangsa dan agamanya.

Berbicara tentang pejuang kemerdekaan tentunya tidak sah jika tidak membahas beberapa sejarah atau kejadian menarik yang dialami oleh segelintir tentara, mulai dari kehidupannya sebagai seorang abdi negara, sampai ke kehidupan pribadi dan keluarganya.


Sebagaimana kita ketahui bahwa tugas utama para pejuang kemerdekaan pada saat itu adalah mengusir para penjajah dari setiap jengkal wilayah Nusantara.

Perjuangan mengusir penjajah dengan menggunakan senjata api, bambu runcing dan senjata tradisional lainnya yang harapan besarnya dapat sesegera mungkin mengusir penjajah dari tanah kelahirannya.

Tak jarang beberapa pejuang yang dianugerahi kelebihan oleh Allah SWT, berupa ilmu kebatinan mereka gunakan bukan untuk kejahatan melainkan untuk membantunya dalam tugas negara tersebut, mulai dari kemampuan menghilang dalam sekejap mata, sampai dengan ‘timah panas’ yang hanya mampu menembus tubuh tanpa sama sekali melukainya.


Tentu dalam kehidupan modern, cerita-cerita tersebut akan dengan sangat mudah tertolak oleh akal logika, bagaimana mungkin seorang manusia biasa, bukan seorang Nabi ataupun wali mempunyai kemampuan tersebut.

Dan sebagai seorang muslim, kita sebaiknya menghindari segala sesuatu yang dapat merusak aqidah, dan tetap menempatkan akal logika di tempat yang layak sesuai dengan kedudukannya.


Perjuangan-perjuangan tersebut tentunya didasari atas cita-cita setiap jiwa pribumi nusanrara untuk bersatu padu mengusir penjajah dengan harapan besarnya adalah menghadirkan kemerdekaan bagi nusantara yang kemudian disepakati sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang mana wilayahnya mencakup jarak dari Sabang sampai Merauke.


Semua perjuangan yang dilakukan atas dasar cinta negara dan agama sebagaimana disebutkan oleh Nabi dalam haditsnya “Hubbul Wathon Minal Iman”, yang kurang lebih jika kita tarik arti dari hadits tersebut adalah “cinta tanah air sebagian dari iman”.


Namun dewasa ini, hadits tersebut kembali banyak diangkat dalam berbagai kesempatan seiring dengan berjalannya kondisi dan situasi negeri.

Mulai dari permasalahan wabah Covid-19 yang pada awal kemunculannya di Indonesia kurang mendapat perhatian serius sehingga di saat negara-negara lain sudah menyatakan negaranya bebas dari Covid-19, Indonesia sampai sekarang masih disibukkan dengan permasalahan penanganan Covid-19.

Entah ada hikmah apa di balik itu semua yang pasti peran pemuda di situasi seperti ini sangat amat dibutuhkan untuk mendukung pemerintah guna mengentaskan permasalahan penanganan Covid-19 di negeri ini.


Jauh sebelum Covid-19 menyerang seluruh dunia tidak terkecuali Indonesia, bangsa ini sudah sebetulnya dihadapkan pada kondisi perpolitikan yang kian hari kian menjadi sorotan publik.

Mulai dari permasalahan korupsi, kolusi dan nepotisme yang diawali pada tahun 1965 hingga mencapai puncaknya pada tahun 1998, permasalahan HAM, permasalahan PKI yang hingga saat ini masih sering diperbincangkan dalam berbagai kesempatan, sampai dengan ancaman resesi yang dihadapi Indonesia di akhir tahun 2020 ini.


Hal ini sejalan dengan pernyataan presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno bahwasanya, ”Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”.

Maksud dari pernyataan Bung Karno adalah Beliau mengingatkan bahwa ancaman yang akan dihadapi bangsa Indonesia setelah merdeka, terutama tentang persatuan.

Terbukti sekarang begitu banyaknya perbedaan pandangan politik yang menjadikan setiap periode pemilihan seakan seperti “perlombaan kekuasaan” di mana yang menang akan berkuasa dan yang kalah di paksa “coba lagi” mencoba peruntungannya pada periode pemilihan berikutnya.


Lalu, di sinilah peran kita sebagai seorang pemuda masa kini agar menjadi harapan besar bagi bangsa di masa depan. Tentunya dengan tidak berlarian ke sana ke mari sembari memegang ‘bedil’, sembunyi di semak-semak mengintai penjajah dan lain sebagainya seperti halnya yang sudah dilakukan tentara pada masanya.

Akan tetapi perjuangan yang di maksud adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya.


Jika tadi disebutkan bahwa perjuangan pahlawan kemerdekaan adalah dengan cara berperang langsung dengan para penjajah, maka tugas utama pemuda masa kini adalah dengan fokus terhadap apa yang menjadi passion-nya.

Jika diantara kita ada yang bergelut di dunia akademisi, maka kita harus fokus pada apa yang saat ini kita jalani yaitu berada dan berprestasi di dunia akademisi, kemudian menjadi pengajar yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan amanat UUD 1945.


Jika diantara kita ada yang senang bergelut di dunia perkonomian maka sudah sepatutnya kita fokus di dunia itu, jadilah pengusaha yang membuka banyak lapangan pekerjaan bagi jutaan lulusan SMA/SMK.

Berikan pelatihan bagaimana berekomomi yang baik dan benar agar anak bangsa semakin banyak yang menjadi pelaku ekonomi di negeri sendiri.


Jika diantara kita ada yang minat berkecimpung di dunia perpolitikan, maka teruskanlah langkah kita, pelajari dasar-dasar politik yang baik dan benar sehingga kelak dalam praktiknya diharapkan tidak menghalalkan segala macam cara untuk berkuasa.


Jika sedari kecil diantara kita ada yang bercita-cita menjadi seorang dokter, maka perjuangkan cita-cita itu dan abdikan diri kita untuk menjadi tenaga kesehatan dan menciptakan rumah sakit-rumah sakit dengan tarif pengobatan yang terjangkau, agar seluruh lapisan masyarakat Indonesia dapat merasakan penanganan atau tindakan pengobatan yang relatif lebih terjangkau sehingga menjadikan angka kesehatan penduduk Indonesia meningkat tidap tahunnya.


Selanjutnya jika semua sektor sudah oleh putra bangsa kuasai dengan baik dan benar dengan mengedepankan prinsip-prinsip pancasila maka dapat dipastikan kekhawatiran Bung Karno terhadap kelanjutan bangsa Indonesia di masa depan tidak akan terjadi.

Bahkan keberlangsungan bangsa Indonesia dapat berjalan dengan baik sesuai dengan cita-citanya dan para pahlawan yang telah gugur baik ketika menunaikan tugasnya, maupun gugur karena faktor usia yang sudah menjadi ketetapan sunnatullah (ketetapan Allah SWT).

Sehingga cita-cita besar para pejuang kemerdekaan agar bangsa ini tetap bersatu dan tidak ada lagi penjajahan di masa depan dapat terealisasikan.***

Penulis : Dian Pramana Putra – Mahasiswa Tingkat Akhir STISHK Kuningan Prodi Muamalah/Hukum Ekonomi Syariah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *