Hasna dan Husna, sepasang bayi kembar cantik yang tak terpisahkan dan terlahir dengan keistimewaan. Mereka selalu berbagi selimut yang sama, berbagi bantal yang sama, bahkan berbagi hati yang sama. Karena Hasna dan Husna adalah sepasang bayi kembar siam yang terlahir dengan bagian perut yang menempel dan hanya memiliki 1 hati.

Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sebulan lagi Bu Oom akan melahirkan. Namun kekhawatiran Bu Oom dan Pak Tia mulai muncul ketika melihat ekspresi dokter yang tengah memandang layar USG. Dokter pun akhirnya membuka mulut, dengan lirih menyatakan kalau bayi Bu Oom kembar siam dengan kondisi perut yang menempel.

Rencana Bu Oom untuk melahirkan di kampung asalnya di Kuningan kini harus ia pendam. Mau tak mau, Bu Oom harus melahirkan di Bandung, jauh dari keluarganya.

Waktu yang telah ditentukan pun akhirnya datang, Bu Oom tak kuasa menahan tangis saat melihat Hasna dan Husna keluar dari rahimnya. Begitu bahagianya ia karena Hasna dan Husna bisa lahir dengan selamat, namun sedihnya juga tak tertahankan karena melihat perut Hasna dan Husna yang berdempet dan hati mereka menempel.

Belum lagi dokter juga mengatakan bahwa Hasna dan Husna akan menjalani operasi pemisahan saat usia mereka telah menginjak 6 bulan. Operasi pemisahan hati serta pembuluh darah yang terhubung, sebuah operasi yang sangat besar dan tentunya memerlukan biaya yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Kini Hasna dan Husna harus menunggu sampai usia mereka mencukupi untuk operasi. Sepasang bayi yang belum bisa menyusu langsung pada ibu mereka karena hanya bisa menyusu lewat botol.

Bu Oom pun tak bisa mengurus Hasna dan Husna seorang diri sehari-harinya. Butuh paling tidak 2 orang untuk memandikan Hasna dan Husna. Setiap 2 jam sekali, Hasna dan Husna pun harus selalu diganti posisinya agar tubuh mereka tidak kaki, agar satu kaki dan tangan mereka tak terus tertindih oleh tubuh mereka sendiri terus. Agar kelak Hasna dan Husna tak menderita kelainan pertumbuhan otot dan tulang.

Di saat yang bersamaan, upah Pak Tia yang bekerja sebagai admin logistik di sebuah pabrik pemotongan ayam tidaklah mencukupi, khususnya saat wabah pandemi seperti ini. Kerja kerasnya diupah 100 ribu per harinya dan karena tidak setiap hari ada pesanan yang masuk, maka tak setiap hari pula Pak Tia bisa bekerja.

Dengan penghasilan yang terbatas itu, butuh 41 tahun buat Pak Tia agar bisa mengumpulkan lembaran 100 ribu yang cukup untuk operasi si kembar untuk mengumpulkan uang sebanyak 1 Miliar. 41 tahun yang harus dihabiskan Hasna dan Husna hidup dengan perut yang menempel dan hati yang sama. Hasna dan Husna tak bisa menunggu selama itu.

Hasna dan Husna selalu memenuhi pikiran Pak Tia meski beliau tengah bekerja. Ingin rasanya ia di rumah dan membantu Bu Oom mengurusi buah hati kembar mereka. Namun bila Pak Tia tak bekerja setiap harinya, entah berapa tahun lamanya ia harus mengumpulkan uang untuk operasi Hasna dan Husna.

Setelah dipastikan kebenarannya melalui anggota BEM yang sempat lama bekerja sebagai tenaga pengajar di Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) di daerah tempat domisili Hasna dan Husna berada. Maka dengan landasaran firman Allah:

” Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya”
(QS. Ibrahim: 34)

Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya. – (Q.S Al-Maidah: 2)

Untuk itu BEM STISHK mengajak, mari kita bantu ringkan biaya operasi Hasna dan Husna dengan berdonasi melalui :

BSM No.Rek 7847451232 (a.n BEM STIS Husnul Khotimah)

Konfirmasi bukti transfer, hubungi :

CP 081324278376 (Anni Yunita Safitri)

Donasi Anda sangat Berharga Bagi Mereka

#yukdonasi # bantusaudarakita #bayikembar #bemstishk #bemmengabdi

Kunjungi linimasa kami, di:

Badan Eksekutif Mahasiswa STIS HK 2019/2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *